Selasa, 30 Agustus 2011

BELAJAR DARI RAMADHAN DAN IDUL FITHRI

Bulan Ramadhan adalah bulan Tarbiyah, disana kita dilatih,dididik dan dikembalikan pada fitrah atau jati diri kita sebagaimana kita diciptakan Allah SWT. Ramadhan tidak hanya berisikan aktivitas ibadah semata tetapi lebih dalam dari itu kita dingatkan tentang siapa diri kita sebenarnya,agar kita tidak semakin jauh meninggalkan segala keharusan kita sebagai manusia dan hamba ALLAH.
Dibulan Ramadhan itu kita menemukan beberapa kenyataan yang tak bisa kita pungkiri. Kenyataan itu pula yang mengajarkan pada diri kita sendiri bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat kita banggakan dari diri kita ini. Ramadhan mengajarkan kita tentang kesadaran yang mesti kita jaga untuk menjamin diri kita untuk senantiasa mengingat kebesaran ALLAH dan sekaligus senantiasa mengingat bahwa diri kita semata-mata hanyalah hamba NYA.
Berbagai kesadaran itu antara lain adalah ; 
1. Kesadaran akan kelemahan diri kita sebagai hamba
2. Kesyukuran akan kedudukan diri kita sebagai hamba

Kesadaran akan kelemahan diri kita sebagai hamba mengajarkan tentang betapa lemahnya diri kita dan betapa tergantungnya kita pada Allah. Kita dicoba untuk hidup dalam sebuah penderitaan yang dialami saudara-saudara kita yang belum beruntung dibanding kita. Lapar dan haus yang selama ini sangat mudah kita atasi tetapi pada saat kita berpuasa kita harus mematuhi aturan yang tidak boleh ditawar walaupun dihadapan kita tersedia panganan dan minuman. Kita menjadi memahami betapa perihnya hidup saudara-saudara kita yang fakir dan selama ini kita palingkan wajah kita disaat mereka menatap kita sambil menengadahkan kedua telapak tangannya.

Alhamdulillah latihan lapar dan haus masih terbatas pada saat berbuka saja lalu kita bisa berbuka dengan berbagai macam panganan pembuka, bagaimana seandainya pembuka puasa tidak tersedia dirumah kita ? Demikian yang dialami tidak sedikit saudara-saudara kita, barangkali mereka berpuasa sepanjang hari dan sepanjang malam. Kita diajarkan tentang nilai-nilai kepedulian sosial dan tanggungjawab sosial diri kita. Pada sisi lain kita diajarkan bahwa walaupun berbuka kita hanya disuguhi sepotong tempe dan segelas air putih tetapi kita menyadari dan melihat sendiri ada saudara-saudara kita yang tidak bisa berbuka puasa karena tidak punya persediaan untuk dimakan ( Kesyukuran kita sebagai hamba).
Dari dua kesadaran yang kita dapat itu maka selayaknyalah sesudah Ramadhan berlalu kita yang menjalaninya dapat menjadikan diri kita sebagai hamba yang peka sosial dan bertanggungjawab sosial, dengan itu akan menjadikan diri kita sebagai hamba yang pandai bersyukur. Karena itu Ramadhan sangat dirindukan setiap Muslim yang mengenalinya, karena itu Ramadhan selalu dinanti.

Idul Fitri selanjutnya akan menjadi tolak ukur dari hasil proses Ramadhan yang sudah kita jalani. Yakni pembuktian awal dari keberhasilan tarbiyah yang kita laksanakan selama sebulan. Hal itu ditandai dari pembayaran Zakat Fitrah dan selanjutnya bagaimana kita bisa menghidupkan suasana tarbiyah dibulan Ramadhan itu pada bulan-bulan selanjutnya. Semoga kemenangan yang kita peroleh benar-benar sebuah kemenangan besar dalam menegakkan Amar Ma'ruf nahi Munkar pada diri kita sendiri sebelum beranjak keskala yang lebih luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar